Gigi Sehat Berkat Garam dan Sirih

JAKARTA– Anjuran untuk berkumur dengan air garam seringkali dilontarkan orangtua kepada anak-anaknya ketika mengalami sakit gigi atau nyeri lain di sekitar mulut. Mungkin, Anda juga pernah mengalaminya. Bisa jadi Anda juga bertanya-tanya apa alasannya.

Menurut Pakar Tumbuhan dan Obat Tradisonal, dr. Setiawan Dalimartha sebenarnya hal itu sangat masuk akal. Garam yang berasal dari laut, mengandung natrium dan elektrolit. Hal itu akan membantu merangsang saraf dan otot dalam mulut.

“Tampaknya memang ajaran tradisional, namun sebenarnya bisa berkhasiat membuang kuman dan mengembangkan flora-flora baik dalam mulut, menyembuhkan peradangan,” ujar Setiawan dalam acara buka bersama bertema “Mulut Baik di Bulan Baik” dengan Pepsodent Herbal di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Gerakan kembali ke alam yang semakin banyak digaungkan, termasuk mengenai perawatan kesehatan mulut dan gigi. Kegiatan bersirih yang banyak dilakukan oleh orangtua secara turun temurun kemudian menarik para peneliti dari dunia kedokteran modern.

Terbukti, sirih memiliki efek sangat baik dan berguna untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. “Kandungan minyak asiri pada daun sirih yang kaya akan chivakol, menjadikannya bermanfaat sebagai antibakteri, dengan daya bunuh bakteri hingga lima kali lipat dari antibakteri golongan fenol,” tutur Setiawan.

Selain itu, lanjutnya sirih juga mengandung tannin yang dapat menghentikan perdarahan padda radang gusi serta mengatasi sariawan. “Pigmen hijau pada sirih juga berkhasiat sebagai antioksidan dan kholorofil sebagai antiradang, antioksidan dan penyembuh luka,” terangnya.

Dia menambahkan, pengetahuan empiris yang diperoleh secara turun temurun memang tak selalu memberikan rasa aman. Sehingga kini semakin banyak dilakukan penelitian dunia medis terhadap bahan-bahan herbal. Tujuannya, untuk memastikan penggunaan herbal sebagai zat yang berkhasiat dan aman untuk penggunaan jangka panjang.

“Yang perlu diketahui, sebaiknya sirih tidak dicampur dengan pinang. Sebuah penelitian mengungkap, jika kedua bahan itu dicampur justru bisa menyebabkan kanker,” jelas Setiawan.

Berpuasa
Memasuki bulan puasa, salah satu masalah yang sering mencuat adalah bau mulut. Seringkali, orang berpuasa terganggu dengan hal itu.

Menurut DR. drg. Melanie Sadono Djamil, hal itu wajar saja. Pasalnya, tidak ada proses pengunyahan. Padahal proses itu merupakan self cleansing alami. “Proses mengunyah yaitu beradunya gigi kemudian muncul air liur sehingga kemudian bakteri hilang atau tertelan. Selama puasa, hal itu tidak dilakukan sehingga timbul bau mulut,” paparnya.

Melanie mnyarankan, selama berpuasa sebaiknya tetap menyikat gigi minimal dua kali sehari yaitu setelah sahur dan sebelum tidur. Serta, menghindari makanan yang berbau menyengat seperti durian, pete dan jengkol. “Makanan semacam itu dapat bertahan lama dalam mulut, bisa jadi mengganggu aktivitas nantinya,” saran wanita berjilbab itu. (rin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: